Kutahu Penebusku Hidup (Ayub 19-25-27)

Friday, 03 May 2013 03:42 Daniel Ronda

Kotbah untuk Mengenang Budiman Bun (dalam Kebaktian Peringatan Alm)

Di bulan Desember 2010, tiga kali Budiman datang ke kampus STT Jaffray, tempat saya mengabdi sebagai dosen. Pertama kali, ia membawa hadiah Natal untuk kami dan beberapa dosen-dosen STTJ sambil mengingatkan agar voucher belanja segera digunakan. Yang kedua, ia datang lagi bersama Juliet (istri) dan mama mertuanya (Ibu Laura) untuk membawakan pakaian baru layak pakai untuk mahasiswa STTJ. Kali ini mahasiswi sangat bergembira mendapatkan hadiah pakaian, apalagi sebagian mahasiswi ada yang tidak bisa merayakan Natal di kampung halamannya bersama keluarga. Hadiah ini menjadi pengobat rindu mereka, karena bisa merayakan Natal dengan penuh makna. Yang ketiga, dia mengabari saya untuk menawarkan rak-rak di perusahaannya bagi kampus STTJ dan tentu kami senang bisa mendapatkannya. Dia datang khusus ke kampus mengabarkan hal itu.

Tidak disangka, pelayanannya bagi kampus STT Jaffray telah menjadi terakhir dalam kehidupannya. Kami sungguh terpukul kehilangan, orang yang bukan hanya mencintai Tuhan dan pekerjaan Tuhan di GKKA, tetapi juga yang Tuhan pakai untuk pelayanan lainnya bagi gereja-gereja, orang miskin, dan khususnya juga kampus STTJ. Rasanya kita tidak dapat menerima kenyataan ini secara manusia.

Namun di tengah kepedihan kami mengingat iman dan pengharapan yang Firman Tuhan janjikan dalam Ayub 19:25-27: "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu."

Ayub, sebagai orang yang merasakan kegetiran hidup yang mungkin tidak pernah dihadapi seorang manusia memiliki kepercayaan yang tiada taranya tentang Tuhan. Ia kehilangan segalanya, kehilangan anak-anak yang dikasihinya, bahkan ia menderita suatu penyakit yang lama dan hampir membawanya kepada kematian. Banyak orang meratapi penderitaannya dan memberikan argumen mengapa dia mengalami hal yang sedemikian perihnya? Namun Ayub dituliskan dalam Alkitab untuk memberikan keyakinan bahwa Tuhan adalah di atas segala masalah dan penderitaan manusia. Terlebih dari itu kebahagiaan kekal bersama Tuhan telah hidup dalam keyakinan Ayub. Saat ini kita mau merenungkan pelajaran apa yang kita dapat dari pernyataan Tuhan lewat mulut Ayub dalam pasal 19:25-27?

Pertama, di tengah kepedihan, ada kepastian. Di dalam ayat-ayat di atas Ayub mengatakan bahwa "Aku tahu penebusNya hidup". Ia juga memakai kata "aku" untuk membuktikan bahwa ia memiliki hubungan yang akrab dengan penebusNya. Ini adalah suatu keyakinan yang kokoh dan bukan suatu spekulasi tentang kehidupan di masa depan. Perkataan "penebusku hidup" membuktikan bahwa Ayub memiliki keyakinan yang kokoh bahwa Allah telah membelinya, di mana kata ini memberikan suatu gambaran kebebasan dari perbudakan dosa. Ditebus berarti dibayar dengan harga yang mahal. Ia begitu yakin bahwa hubungannya dengan Tuhan telah memberikan kepastian keselamatan. Hal itu digenapi dalam 1 Petrus 1:18-19, bahwa kita ditebus bukan dengan barang yang fana, melainkan dengan darah yang mahal yaitu Yesus Kristus. Itulah yang menyebabkan kita tidak dapat dikalahkan dengan kematian sekalipun, karena penebusan dalam Kristus menyebabkan kita hidup selama-lamanya. Budiman sudah menyatakan imannya, bagaimana dengan kita yang masih hidup?

Kedua, Ayub berkeyakinan bahwa tubuh di dunia ini tidak permanen atau abadi. Ia mengatakan bahwa, "Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku..." Walaupun demikian ia yakin tetap dapat melihat Allah. Ini mengingatkan kita semua, kehidupan fana ini tidak abadi. Ada suatu keabadian di mana kita akan selama-lamanya bersama Allah. Jadi ketika tubuh ini kembali kepada debu, Ayub yakin ia tetap eksis sebagai pribadi di hadapan Allah yang secara kekal bersekutu dengan Dia. Dan kita pun yakin setiap kita yang percaya akan bertemu muka dengan muka baik dengan pecipta maupun dengan mereka yang percaya.

Ini keyakinan dan kemenangan yang tiada taranya. Budiman telah memiliki sukacita abadi bersama Yesus. Kita bisa mengingat janji Yesus yang berkata: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (Yoh 11:25-26).

Akhirnya, saya dan Elisabeth mengatakan selamat jalan Bud! Cintamu akan Tuhan dan pelayanan, termasuk pelayanan bagi kampus STT Jaffray tidak akan kami lupakan. Doa kami selalu untuk Juliet, anak-anak, dan orang tua serta mertua. Tuhan memberikan kekuatan bagi kita semua. Amin.

 

*Pdt. Daniel dan Elisabeth Ronda, melayani di STT Jaffray dan Elisabeth membantu "part time" di Komisi Keluarga Zion GKKA Jemaat Ujungpandang.

Events

mengundang

agenda

Statistik Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
Today: Dec 28, 2014

Twitter


Ads on: Special HTML

Alamat

Dr. Daniel Ronda
08124222711 / 0411-5744185
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan Indonesia

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP