Teknik Menafsir “Alkitab Menafsir Alkitab”

Tuesday, 04 September 2018 04:35 Daniel Ronda

Oleh Daniel Ronda

 

Ada gembala yang berpegang teguh dengan prinsip penafsiran “Alkitab Menafsir Alkitab” yang artinya untuk menafsirkan teks dalam Alkitab pakailah teks Alkitab juga baik yang berkaitan dalam teks maupun yang bersifat penggenapan. Bisa Perjanjian Baru menafsir Perjanjian Lama atau sesama teks dalam Perjanjian Baru namun berlainan kitab. Teknik penafsiran seperti ini diakui sebagai salah satu teknik hermeneutika dan diterima secara umum dalam menafsir. Namun jangan salah faham, bahwa teknik menafsir seperti ini tidak berdiri sendiri artinya ini bukan teknik yang dipakai tanpa menggunakan cara lainnya. Maksudnya, jika menggunakan prinsip ini harus juga menggunakan prinsip yang lain sebagai satu kesatuan. Tanpa itu, maka penafsiran kita menjadi subyektif karena bergantung pada apa pendapat saya dan ketika ada kontradiksi dalam teks maka kita akan hanya ambil yang sesuai dengan dengan keinginan kita sendiri. Itu yang menyebabkan susah mendapatkan apa yang merupakan pesan Tuhan dalam teks suci ini.

 

Bagaimana teknik penfasiran yang sebenarnya itu?

 

Prinsip pertama, penafsiran harus menemukan makna berdasarkan apa maksud penulis Alkitab dan bukan maksud pembaca. Itu berarti kita harus memasuki konteks penulis secara historis, gramatika, budaya dan bentuk literal dari penulisan itu. Maka alat yang diperlukan adalah Alkitab yang berisi studi penuntun, di mana sudah ada dalam bahasa Indonesia. LAI misalnya menerbitkan Alkitab Edisi Studi untuk hamba Tuhan dan masih ada beberapa lainnya. Alat yang kedua adalah buku tafsiran (commentary) yang baik di mana buku yang dipilih dapat memberikan pengayaan perspektif terhadap apa maksud penulis. Buku tafsiran yang baik adalah mengupas secara mendalam apa maksud teks dan bagaimana itu diaplikasikan dalam konteks moderen.

 

Prinsip Kedua,  penafsiran dalam teks harus ditafsir dalam konteks dari ayat-ayat dalam paragraf dan pasal itu. Prinsipnya jelas bahwa konteks menentukan arti/makna dari ayat itu. Konteks yang terdekat adalah menjadi dasar dalam memaknai teks yang ditafsir. Jadi harus dimulai dari konteks terdekat yaitu ayat sebelum dan sesudahnya, lalu konteks dalam satu paragraf, satu pasal dan satu buku. Seringkali penafsir terjebak menafsir ayat terlepas dari konteksnya dan mencomotnya untuk kepentingan dan maksud pengkhotbah. Itu tidak dibenarkan dalam hermeneutika. Contohnya Wahyu 3:20 sering dijadikan teks penginjilan. Padahal konteksnya jelas untuk orang percaya dan maksudnya jelas bahwa orang yang sudah menagku percaya pun harus bertobat dari dosanya dan kembali persekutuan yang indang dengan Dia.

 

Prinsip ketiga, menafsir Alkitab dengan cara memperhatikan penggunaan bahasanya yaitu apakah bahasa biasa (literal) atau bahasa kiasan atau figuratif. Jadi tidak semua bahasa yang dipakai seperti laporan berita surat kabar yang penuh deskripsi data dan fakta tapi dalam Alkitab seringkali juga memakai bahasa kiasan, lambang dan puisi. Maka perlu dicari tahu apa artinya, karena berbagai corak ekspresi bahasa menggambarkan keindahan dari sastra Alkitab itu sendiri.

 

Prinsip keempat, baru kita tiba pada Alkitab membantu menfasir Alkita itu sendiri. Setelah tiga langkah di atas dilakukan, maka baru kita mengecek teks Alkitab untuk menolong memahami teks yang ada. Maka kita harus menganut pandangan “law of non-contradiction” artinya Alkitab itu suci dan Firman Allah sehingga tidak mungkin Tuhan menyatakan sesuatu yang bertentangan. Itu melawan prinsip kebenaran Allah. Maka jika ada yang bertentangan maka dia bisa saling melengkapi dan juga bisa berperan untuk penggenapan karena pewahyuan Alkitab itu bersifat progerif yang berpusat pada penggenapan Kristus (the progressive nature of revelation). Contoh bila Markus tidak lengkap menulis perkataan Yesus, sedangkan Matius lebih lengkap maka itu tidak dipertentangkan tapi digunakan keduanya di mana saling melengkapi. Namun tetap syaratnya prinsip 1-3 sebelumnya harus diterapkan.

 

Prinsip kelima, penafsiran harus dibedakan dengan aplikasi. Harus diingat bahwa teks mengandung nilai kebenaran abadi, sedangkan aplikasi adalah tuntunan Roh Kudus untuk pendengar masa kini. Maka tugas kita menemukan apa yang Tuhan mau sampaikan dari kebenaran abadi ini. Misalnya Maria mengurapi Yesus dengan minyak yang mahal (Yoh 12) tidak dimaksudkan supaya kita ke gereja bawa minyak tapi nilai kebenarannya adalah pengorbanan kita untuk Tuhan setelah diselamatkan. Apa yang dapat kita beri sebagai bentuk respons anugerah Tuhan bagi kita?

 

Prinsip keenam, harus sangat sensitif membedakan antara Israel di Perjanjian Lama dan Umat Allah dalam Perjanjian Baru. Kita menganut pandangan gereja adalah kegenapan dan kelanjutan umat Israel, olehnya jangan terjebak kepada penggunaan ritual dalam Perjanjian Lama karena kita tidak lagi di bawah hukum Taurat (Roma 6:14). Hukum civil dalam PL jelas sudah tidak berlaku karena semua bentuk penegakan hukum dan pengadilan sudah diserahkan kepada pemerintah (Roma 13). Hanya hukum moral dalam PL yang berlaku sampai hari ini. Untuk janji berkat Israel sudah harus dilihat dan diaplikasikan dalam kehidupan gereja saat ini. Janji tanah perjanjian itu bagi Israel dan bukan untuk orang percaya karena Tuhan menyuruh umatNya untuk memelihara bumi dengan sebaik-baiknya dan janji sorga bersama Kristus adalah tanah yang terjanji sebagai Yerusalem baru. Itu adalah mereka yang dijanjikan bagi gerejaNya.

 

Prinsip ketujuh adalah dalam penafsiran harus sensitif terhadap jenis sastra dari teks yang dibaca. Alkitab terdiri dari berbagai jenis sastra Alkitab seperti: sastra hukum, naratif (cerita), hikmat, puisi, Injil, perumpamaan, surat-surat rasul, apokaltiptik (akhir zaman). Setiap jenis sastra ini memiliki keunikan khusus dalam memahaminya sehingga harus diperhitungkan jika hendak menafsir. Bagian ini tentu harus diperdalam lewat studi khusus hermenutika. Paling tidak tujuh prinsip ini adalah dasar untuk memahami maksud teks dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

 

Maka kembali kepada permasalahan di atas, apakah bisa menfasir Alkitab memakai Alkitab? Maka jawabnya tentu bisa dan harus digunakan, tetapi dia tidak berdiri sendiri. Harus menggunakan prinsip-prinsip yang sudah dijelaskan di atas secara keseluruhan. Dengan demikian kita tidak akan memanipulasi ayat-ayat Alkitab untuk kepentingan sendiri atau mempertahankan tradisi nilai yang sudah usang karena teknik penafsiran yang kurang tepat yaitu mengandalkan tafsir literal teks saja. Semoga kita semakin tekun dalam mendalami Alkitab yang adalah andalan utama kita dalam membawa umat Allah semakin dekat dengan Tuhan.

 

Sumber:

https://bible.org/seriespage/lesson-6-principles-biblical-interpretation

 

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

270877

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP