Seri Khotbah yang Hebat: Gerakan Tubuh

Tuesday, 04 November 2014 01:46 Daniel Ronda

bodyCatatan Pendek DR: “Khotbah yang hebat - Gerakan Tubuh (10)”

Dalam berkhotbah maka sangat tidak menarik bila pengkhotbah hanya berdiri dan bicara saja bak patung bicara. Tentu ini akan membuat pendengar bosan apalagi jika membaca teks khotbah. Memang tiap denominasi gereja memiliki tradisi dalam menggerakkan badan dalam berkhotbah. Ada pengkhotbah yang melakukan pendekatan yang serius, agung dan tidak senyum dan jika ada gerakan tangan itu bersifat penyembahan. Tapi ada juga yang tangannya cukup ekspresif bergerak bahkan ada yang berjalan-jalan keliling mimbar selama berkhotbah. Jadi tradisi itu nampak dalam masing-masing denominasi gereja. Tentu saya harus menghormati tradisi yang ada, namun alangkah baiknya kita memerhatikan beberapa prinsip tentang gerakan tubuh yang kiranya bisa dimodifikasi waktu berkhotbah sesuai tradisi gereja kita.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah gerakan tubuh harus sesuai dengan isi yang dibicarakan. Saya sering melihat pengkhotbah semangat sekali bergerak dan menggerakkan tangannya sementara isi khotbahnya adalah informasi biasa saja. Gerekan tangan atau badan harus sesuai dengan apa informasi yang kita sampaikan. Bila itu memang hal yang penting dan emosi diperlukan, maka gerakkan itu dengan penuh extravaganza. Tapi jika hanya informasi biasa gerakan harus disesuaikan juga.

Kata kunci lain dari gerakan tubuh adalah pentingnya gerakan yang alami (natural). Gerakan tubuh tidak dapat dibuat-buat, dia harus muncul secara alamiah dan mengalir tanpa disadari pada diri pengkhotbah. Gerakan tubuh seharusnya muncul sebelum kata-kata keluar dari mulut walaupun itu sepersekian detik bedanya. Gerakan itu sudah menjadi alamiah yang mendahului kata-kata. Jika kita mencoba belajar gerakan tubuh maka itu akan jadi palsu nampaknya. Ingat bahwa kita adalah pengkhotbah dan bukan aktor film atau panggung. Gerakan tubuh yang teatrikal dapat diterima jika nonton sandiwara atau drama, tapi akan sulit diterima jika kita sedang berkhotbah.

Gerakan tubuh itu sebenarnya adalah jiwa dari komunikasi kita di mana itu keluar bertautan antara kata dan gerakan. Jemaat akan merasakan jiwa dari pembicaraan bila itu menyatu antara kata dan gerakan. Maka penting bahwa gerakan tubuh itu sebaiknya tidak ditiru (bukan imitasi) tapi lahir dari jiwa seorang pengkhotbah. Tentu kita perlu memperbaiki gerakan tubuh kita lewat evaluasi tentang bagaimana caranya mengekspresikan kata dan gerakan yang tepat. Tapi tetap selalu diingat bahwa kita bukan sedang melakukan akting, tapi sebuah kebenaran yang hendak disampaikan. Itu terjadi bila gerakan dan kata sungguh keluar dari hati kita.

Gerakan tubuh adalah merupakan bentuk komunikasi manusia pada umumnya. Bila dipakai dalam khotbah maka itu akan membantu untuk menjelaskan, memberikan penekanan khusus, dan membuka makna yang disampaikan. Jadi gerakan itu sangat penting. Gerakan kepala dan bahu menyatakan sesuatu yang indah, baik, intelektual dan hal-hal yang mulia dalam kehidupan. Tangan yang dilebarkan berbicara tentang hal-hal rohani dan yang sorgawi, atau jika tangan diangkat tinggi berbicara tentang dosa yang dinyatakan untuk kita benci. Tentu ada beberapa hal yang masih kita bisa pelajari.

Selalu diingat bahwa memakai dua tangan lebih baik dari satu tangan. Itu sebabnya saya menyarankan mikrofon yang dipakai hendaknya ditaruh di mimbar atau memakai mikrofon yang ditempel di baju. Satu tangan yang menunjuk ke jemaat itu mengartikan tuduhan dan tidak baik jika jemaat ditunjuk-tunjuk, tapi dua tangan ke jemaat menggambarkan ajakan bersama untuk masuk ke dalam tantangan yang kita berikan dan bersama-sama melakukannya.

Namun yang paling penting untuk diingat bahwa senyuman adalah gerakan tubuh kita yang terbaik. Senyum yang keluar dari hati pengkhotbah menyatakan kasih yag dalam kepada umatNya. Senyuman seperti madu yang memberi kesegaran dan kesembuhan. Itu penting dilakukan di awal khotbah dan memang tidak selamanya kita senyum untuk hal-hal yang serius. Tapi senyuman akan membuat mereka terus mengikat diri dengan khotbah kita walaupun mungkin temanya bukan kebutuhan dia saat itu.

Akhirnya, gerakan tubuh tidak pernah bohong. Itu sebabnya jangan naik mimbar tanpa persiapan, atau kelelahan, atau termasuk ada masalah yang berat, termasuk sedang marah dan kecewa. Kata dan gerakan tangan akan memperlihatkan bahwa kita tidak siap, kelelahan atau sedang menghadapi masalah besar. Sebelum naik mimbar bereskan masalah, juga harus bersiap dan istirahat. Jemaat bukan datang untuk mendengar dan melihat pengkhotbah yang tidak siap dan secara emosi tidak stabil. Mereka membutuhkan kesiapan kita seutuhnya.

 

 

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

221302

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP