KAJIAN ATAS KEPEMIMPINAN MODEL GEMBALA

Sunday, 04 March 2012 15:53 Akmal

Oleh Daniel Ronda ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

ABSTRAK

Kepemipinan gembala adalah suatu model kepemimpinan yang ditawarkan sebagai solusi masalah kepemimpinan Kristen saat ini. Ketika banyaknya tren kepemimpinan yang muncul saat ini tidak dapat memuaskan umat, maka teori kepemimpinan gembala telah mendapatkan kajian yang ekstensif dan ternyata juga telah diaplikasikan di dalam kepemimpinan sekuler yaitu dalam perusahaan-perusahaan di dunia.  Lebih dari itu, studi kepemimpinan gembala berbicara tentang prinsip kehambaan (servant leadership) di mana karakter pemimpin seperti kebaikan, ketulusan, kecakapan, serta kesetiaan telah menjadi prinsip yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan yang mulai beralih kepada prinsip otoriter dan dilayani. Kajian ini menemukan dan menegaskan bahwa bila praktika kepemimpinan gembala ini dihayati maka dapat dipastikan akan terjadi sebuah kepemimpinan yang berhasil dan transformatif bagi gereja dan masyarakat.


PENDAHULUAN

Penulis  mengangkat satu masalah yang sedang hangat dalam kepemimpinan Kristen yaitu tentang gaya kepemimpinan. Dalam kajian soal kepemimpinan umat, para pemimpin gereja saat ini banyak dikeluhkan soal kepemimpinan yang bukan memimpin dengan hati gembala (herding leadership) melainkan memimpin dengan gaya “herder” (analogi anjing jenis herder). Masalah ini banyak terjadi di dalam gereja atau insitusi  di mana banyak pemimpin yang putus asa terhadap pengaplikasian prinsip kepemimpinan dan memilih jalan pintas yaitu dengan cara “herder” yaitu gaya otokratik dan bahkan kekerasan. Hal ini diperkuat Sonny Eli Zaluchu yang dalam tulisannya tentang Intrik di Dalam Gereja mengatakan bahwa, “Kelemahan kepemimpinan gembala biasanya ditandai dengan sejumlah aktifitas yang cenderung memaksakan kehendak, gaya penggembalaan yang tidak berkenan, mulut yang tidak terkontrol, menguatnya pengaruh dan intervensi orang-orang tertentu di dalam keputusan gembala (orang kuat, anak, menantu), visi yang lemah, doa yang kurang dan sikap yang mencerminkan kekunoan (seperti plin-plan, tidak mau mengakui kesalahan dan sikap tidak mau tahu).  Hal yang paling utama adalah gembala yang tidak mau berubah dan selalu tertutup menerima masukan karena menganggap diri benar.”

Jalan ini seringkali diambil karena paling “aman” yaitu adanya anggapan bahwa mereka (baca: pengikut atau jemaat) tidak perlu tahu. Namun seperti yang sudah diketahui bersama, model dari kepemimpinan “herder” ini menghasilkan kehancuran baik diri maupun organisasi yang dipimpin.

Lawan dari memimpin dengan otoriter adalah  memimpin dengan hati gembala di mana ini berbicara tentang melayani, menuntun, mengarahkan, menantang, dan membantu untuk bertumbuh.  Kepemimpinan gembala tidak berbicara soal aktivitas manajemen belaka, namun menumbuhkan orang yang dipimpin. Itu sebabnya mengawasi dan menuntun yang dipimpin akan lebih mudah dan akan menunjukkan hasil yang berbeda. Sudah dibuktikan bahwa orang yang dipimpin tidak dapat digerakkan dimotivasi oleh sebuah birokrasi atau prosedur sebagaimana teori manajemen. Orang hanya digerakkan oleh visi, nilai-nilai, prinsip-prinsip dan keyakinan tentang diri (Robert J. Stevens).
Hal ini diperkuat juga oleh tokok kepemimpinan Anthony D’Souza, yang mengatakan tentang kepemimpinan gembala sebagai berikut:

Bagi pemipin-gembala, produknya adalah para pengikut. Bukan keuntungan , bukan pangsa pasar. Para pengikut itu sendiri yang menjadi tujuan dan produk dari upaya pemimpin-gembala. Dan, karena itu, ketika dombanya tetap hidup menghadapi berbagai bahaya dalam perjalanan, ketika mereka bertambah kuat, gembala dengan setia menunaikan tugasnya. Domba memang harus dibimbing, didorong, dan dimotivasi untuk mencapai kinerja terbaik. Namun, domba-domba inilah yang memenuhi pemimpin-gembala ketika tidur di malam hari dan yang pertama dicari ketika sinar mentari pagi menandai setiap hari baru. Gembala benar-benar merupakan pelayan domba-dombanya. Pertumbuhan dan pemeliharaan terhadap mereka menjadi tugas dan agendanya dalam mencapai sukses (28-9).

Tetapi dalam pengamatan penulis, masalah yang terbesar dihadapi beberapa pemimpin Kristen adalah memiliki minat yang rendah dengan orang-orang serta tidak memiliki kemampuan menjalin hubungan dengan rekan-rekan (interpersonal relationship) dan tidak peduli kepada masalah-masalah emosional orang yang dipimpinnya. Hal lain adalah adanya sikap pesimis terhadap kehidupan di depan sehingga menurunkan semangat organisasi yang dipimpinnya. Ciri lainnya yang paling banyak muncul dalam kepemimpinan adalah bersikap antisosial, skeptis, kurang senyum, suka mendominasi dan agresif. Padahal ini berlawanan dengan kepemimpinan dengan hati gembala.

Fakta lain adalah pemimpin apapun jenisnya senang pendidikan formal, training, menghargai prinsip-prinsip kepemimpinan, dan juga kemampuan manajemen. Tetapi ada kelemahan mendasar kalau tidak memiliki kepemimpinan gembala yaitu hubungan (relationship). Padahal kepemimpinan yang efektif sebagaimana yang ditemukan dalam riset pakar kepemimpinan Kouzes dan Posner bahwa “kepemimpinan adalah hubungan (leadership is a relationship)”.  Mereka berdua berkata, “Kepemimpinan adalah sebuah hubungan. Kepemimpinan merupakan hubungan antara mereka yang terpanggil untuk memimpin dan mereka yang memilih untuk mengikuti. (Versi Inggrisnya: Leadership is a relationship between those who aspire to lead and those who chose to follow. Sometimes the relationship is one-to-many. Sometimes it’s one-to-one. But regardless of whether the number is one or one thousand, leadership is a relationship). (21)”

Satu hal lagi yang diingatkan oleh Dr Stacy Rinehart dalam bukunya Upside Down yang berkata: “Most believers are familiar with Jesus’ recipe for leadership success (“Whoever wants to become great among you must be your servant, and whoever wants to be first must be slave of all” [Mark 10:43-44 NIV]), but when it comes to putting that into practice, many leaders are content to leave Jesus’ advice on a dusty road in Galilee and follow society’s leadership trends.”  Banyak pemimpin mencoba mengikuti tren kepemimpinan dan melupakan prinsip Yesus tentang kepemimpinan gembala.

Masalah ini telah menjadi masalah yang serius dalam kepemimpinan umat dalam gereja dan institusi Kristen lainnya. Untuk itu penulis mencoba mengkaji tentang konsep kepemimpinan yang relevan dalam konteks kepemimpinan Kristen saat ini.


METODE PEMBAHASAN

Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis memakai pendekatan perkembangan teoritis atas kepemimpinan gereja (theoretical development)  di mana penulis secara khusus mengkaji area model kepemimpinan Kristen dan mencoba menemukan secara signifikan modifikasi, reformulasi suatu konsep kepemimpinan yang menjadi model yang relevan dalam praktika kepemimpinan Kristen.

Di samping itu kajian ini didasari dengan memakai proses hermeneutika Kitab Suci Alkitab (sacred text) di mana hasil kajian itu akan dipresentasikan dalam bentuk pernyataan teologis yang kemudian menjadi pedoman bagi gaya kepemimpinan yang dapat relevan dalam zamannya.

HASIL PEMBAHASAN: PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN GEMBALA

Pada bagian ini penulis membahas hasil kajian hermeneutika dan perkembangan teoritis tentang beberapa konsep kepemimpinan gembala yang sudah banyak juga diadopsi oleh tren teori kepemimpinan secara umum:

PRINSIP KEBAIKAN

Memimpin dengan kebaikan harus berpola kepada kebaikan hati Allah. Dalam teologi  kata kebaikan (goodness atau chrēstotēs dalam bahasa Yunani) diidentikkan dengan kemurahan Allah (di bawah pembahasan Allah Mahakasih). Albert Barnes (teolog) memberikan arti kata ini sebagai kindness yaitu kebaikan hati, keramahan, perbuatan baik, kasih sayang. Allah baik di mana Ia penuh dengan belas kasih, baik hati, anugerah, mementingkan kepentingan orang lain (altruisme). Sehingga Allah yang penuh dengan kebaikan berarti Allah yang mengasihi umat-Nya, Allah yang lemah lembut, baik hati dan selalu memberikan anugerah baik dalam Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru. Kasih setia Allah dicurahkan kepada umat-Nya, Israel, meskipun mereka terus berdosa. Ketika Allah harus menghukum Israel karena kebebalan hati mereka yang terus menyembah berhala, Ia tetap mengasihi mereka, sehingga setelah mereka bertobat Allah tetap mengasihi dan memulihkan keadaan mereka, yang walaupun kebaikan Allah tidak pernah boleh dipisahkan dengan keadilan Allah (lihat Denny Teguh Sutandio).

Konsep kebaikan ini ini dapat sepatutnyadingaplikasikan dalam kepemimpinan Kristen. Sifat moral Allah yang mahabaik menantang pemimpin Kristen untuk memiliki kebaikan moral dan semangat alturisme dalam karakternya.

PRINSIP KETULUSAN HATI

Kajian hermeneutika tentang ketulusan hati berbicara tentang integritas seorang pemimpin. Raja Daud dalam kitab suci dikatakan bahwa “Ia menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun (memimpin-led) mereka dengan kecakapan tangannya” (Mazmur 78:72). Itu sebabnya memiliki kompetensi dalam kepemimpinan saja tidak cukup, dibutuhkan juga ketulusan hati.

Rendahnya integritas telah menjadi masalah kepemimpinan Kristen sekalipun. John Maxwell mengatakan bahwa di dalam sebuah survei di Amerika yang ditujukan kepada kurang lebih 1300 para pimpinan perusahaan dan pejabat di pemerintahan, mereka ditanya kualitas apakah yang paling penting dimiliki untuk dapat sukses menjadi pemimpin.  Jawabannya menarik karena secara mayoritas (71%) mereka memilih jawaban sebagai yang terpenting: integritas (173).

Arti kata integritas adalah keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang.  Seseorang yang memiliki integritas tidak meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti.  Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (II Kor 3:2).

Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, tetapi dikembangkan secara satu lepas satu di dalam kehidupan kita melalui kehidupan yang mau belajar, keberanian untuk dibentuk Roh Kudus.  Itu sebabnya seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan, bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia dibandingkan dengan bakat atau karunia yang terhebat sekalipun.  Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak kepada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, tetapi kepada tidak adanya integritas pada diri pemimpin (Lihat Maxwell, 178).

PRINSIP KECAKAPAN

Memimpin dengan kecakapan berarti memiliki kompetensi. Menurut Dr. Yakob Tomatala, kompetensi meliputi banyak hal yaitu meliputi kompetensi karakter, pengetahuan, dan keahlian (Lihat  Kepemimpinan yang Dinamis: 235-341). Dalam tulisan ini penulis khusus mengambil dua hal dari kompetensi keahlian yang menolong menguatkan kepemimpinan gembala kita yaitu kecakapan hubungan antar manusia (relationship) dan kecakapan keahlian teknis. Ada dua kompetensi kepemimpinan. Pertama, kecakapan yang berkenaan dengan “hubungan antar manusia” atau disebut juga “keterampilan atau kecakapan sosial”. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, tetapi ia juga dengan penuh tanggung jawab dapat membina hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerja sama yang baik dan keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh pemimpin. Ia harus memiliki tekad  untuk menyukainya, menghidupinya dengan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus tetap berlaku di sini, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin, mencerminkan apa saja yang akan/nanti/telah diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan melaksanakan/membina hubungan baik dengan siapa saja, ia pun akan menerima kebaikan dari tindakannya.

Kedua, kecakapan yang berkaitan dengan “hubungan pelaksanaan tugas” di mana seseorang yang disebut ahli itu tahu dan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Keterampilan atau keahlian atau kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis, sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan “bagaimana melaksanakan tugas”, yang harus dilaksanakan dengan baik dan . pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang berkenaan dengan kecakapan memimpin.

Itu sebabnya dalam memimpin, seseorang tidak boleh pernah berhenti belajar baik dalam bentuk formal ataupun informal. Pembelajaran yang terus menerus akan menghasilkan kecakapan yang lebih banyak lagi. Pembelajaran tidak berfokus kepada gelar, namun kepada pemenuhan salah satu kunci sukses pemimpin-gembala yaitu cakap, yang meliputi cakap mengajar, cakap berelasi, dan cakap memimpin.

PRINSIP KESETIAAN DALAM KEBENARAN

Kajian hermeneutikan atas kata “kesetiaan” adalah penting dalam kosakata teologi Kristen dan juga pemimpin-gembala. Setidaknya dalam Perjajian Lama maupun Perjanjian Baru pemimpin dituntut Tuhan untuk mencintai kesetiaan (love mercy) disamping adil dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6: 8). Kesetiaan harus ditunjukkan disamping kasih sayang kepada masing-masing sebab Tuhan akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran (Zakaria 7:9 dan 8:8). Setidaknya ada tiga sebab mengapa kesetiaan itu penting. Pertama,  kesetiaan adalah yang terpenting dalam hukum Taurat (Matius 23:23); kedua,  kesetiaan salah satu buah Roh Kudus yang harus ada dalam kehidupan kita (Galatia 5:22); ketiga, kesetiaan merupakan salah satu yang harus dikejar disamping keadilan, kasih dan damai (II Timotius 2:22).

Dalam pengamatan penulis, banyak ahli kepemimpinan dalam bukunya tidak suka kata kesetiaan, karena sering kali disalahgunakan sebagai tameng untuk berlindung dari kegagalan memimpin. Walaupun demikian, kesetiaan tidak boleh dihilangkan dalam kamus pemimpin-gembala, karena tanpa kesetiaan, maka kita tidak berhak menuntut loyalitas yang sama kepada pengikut kita. Justru ini yang menjadi kunci keberhasilan pemimpin-gembala.

KESIMPULAN

Tren kepemimpinan telah berkembang sangat pesat dan dapat dengan mudah dipelajari secara mandiri. Bahkan nilai dan prinsip biblika telah mewarnai semua lini prinsip ilmu kepemimpinan. Namun dalam lini praktika, gereja diperhadapkan dengan kompleksitas kultural, masalah sosial, dan konteks yang sangat beragam. Saat ini pemimpin tidak boleh berhenti dengan penerapan kepemimpinan dalam kehidupan.  Ada banyak keunikan yang akan ditemukan di lapangan. Seperti kata Robert Clinton, pemimpin sedang memasuki “university of life”, di mana penerapan nilai kepemimpinan tidak pernah berhenti. Nilai-nilai itu harus terus digali.

Salah satu hal yang menjadi solusi dalam kepemimpinan sat ini adalah perlunya pengembangan kepemimpinan yang berhati gembala. Nilai ini bersumber dari Yesus sendiri lewat hidup dan pengajaranNya.  Prinsip itu didasarkan kepada kebaikan, ketulusan hati, kecakapan, dan kesetiaan dalam kebenaran. Prinsip ini kekal, namun penerapannya membutuhkan waktu dan kerja keras di dalam konteks masyarakat pascamodernitas ini.

Hal ini ditegaskan dengan pernyataan Anthony D’Souza tentang hasil dalam menerapkan pemimpin-gembala, “Oleh karena itu, gembala adalah model bagi para pemimpin dari segala organisasi, termasuk perusahaan industri dan komersial. Pemimpin dituntut untuk bertindak sebagai gembala sejati atas organisasinya, yang pertama-tama dan terutama dilihat sebagai komunitas manusia. Dengan demikian, pemimpin semacam ini akan memperoleh loyalitas dan komitmen dari para pegawai dan pelanggan, dan pada gilirannya akan meraih apa yang tidak pernah dapat diperintahkan oleh pemimpin lain (29).”


Kepustakaan :

D’Souza, Anthony. Proactive Visionary Leadership. Jakarta: Trisewu, 2007.

Kouzes, James M. & Barry Z. Posner. The Leadership Challenge (Tantangan Kepemimpinan). Edisi Ketiga. Terj. Revyani Sjahrial. Jakarta: Erlangga, 2004.

Maxwell. John C. Developing the Leaders Within You. Nasville: Thomas Nelson, 1993.

Rinehart, Stacy. Upside Down. USA: NavPress, 1998. Tersedia di http://www.navpress.com/Store/Product/9781576830796.html. Diakses 1 Juni 2008.

Stevens, Robert J. Management Versus Leadership. 28 Februari 2006. Diakses 14 Mei 2008. Tersedia di http://herdingcats.typepad.com/my_weblog/2006/02/management_vers.html.

Sutandio, Denny Teguh. Murka Allah Terhadap Kebebalan Manusia dan Pentingnya Pertobatan. Tersedia di http://dennytan.blogspot.com/2007/06/roma-23-4-murka-allah-terhadap.html.  Diakses 1 Juni 2008.

Tomatala, Yakob. Kepemimpinan yang Dinamis. Malang: Gandum Mas, 1997 (diringkas oleh Dian Pradana, tersedia di http://www.sabda.org/lead/_htm/menemukan_pemimpin_kompeten.htm, diakses  1 Mei 2008)

Zaluchu, Sonny Eli. Intrik dalam Gereja. http://www.glorianet.org/kolom/kolointr.html; Gloria Cyber Ministries, Diakses 14 Mei 2008.

Events

mengundang

agenda

Statistik Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
Today: Apr 20, 2014

Twitter


Ads on: Special HTML

Alamat

Dr. Daniel Ronda
08124222711 / 0411-5744185
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan Indonesia

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP