Catatan Kuliah Metode Penelitian by Daniel Ronda

Tuesday, 06 November 2012 01:23 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Pendahuluan

Melakukan penelitian adalah proses di mana manusia mencari kebenaran empiris. Banyak cara yang dipakai manusia dalam mendapatkan kebenaran. Hal itu meliputi: 1) Wahyu; 2) Otoritas; 3) Asumsi; 4) Melakukan percobaan; 5) Akal; 6) Intuisi

Dalam konteks masyarakat modern, maka penelitian dipakai untuk mendapatkan kebenaran. Penelitian menjadi sangat penting untuk mendapatkan informasi yang benar, valid sehingga hasil penelitian dapat digunakan dalam konteks di mana manusia itu berada. Bila di gereja, maka hasil penelitian berguna untuk meningkatkan kinerja pelayanan gereja itu sendiri. Penelitian ini berguna untuk mendapatkan gambaran dan umpan balik dari anggota jemaat terhadap pengembangan pelayanan gereja.

Penerapan Metodologi Penelitian Sosial dalam Studi Teologi

Pembahasan dalam tulisan ini lebih menitikberatkan penelitian sosial karena persoalan di dalam gereja erat kaitannya dengan masalah sosial dalam masyarakat. Bahkan penelitian di jemaat sendiri bisa diterapkan metode penelitian sosial ini (Lihat: Penerapan Metode Kuantitatif dalam Penelitian Gerejawi, oleh Dep. Agama RI, tahun 1996/7).

Untuk kajian filosofis, historis, naskah, maka dianjurkan untuk memakai pedoman penulisan yang ditulis oleh Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair: Metodologi Penelitian Filsafat, terbitan Kanisius Yogyakarta.

Etika Penelitian:

1. Bidang yang diteliti merupakan bidang yang sesuai dengan keahlian peneliti.

2. Semua informasi yang diterima harus dirahasiakan baik nama pemberi informasi maupun catatan-catatan informasi yang diberikan.

3. Responden tidak boleh dilibatkan untuk bertanggung jawab atas resiko laporan hasil penelitian.

4. Peneliti yang baik tidak akan memaksakan responden untuk menjawab informasi, karena pemberian informasi tidak boleh dilakukan di bawah tekanan.

5. Jangan melakukan rekayasa hasil penelitian dengan mengatasnamakan responden. Informasi dari responden sama sekali tidak boleh dirubah.

(Lihat: Usman & Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, 3)

Penelitian Teologi dan Sosial dalam Gereja dan Masyarakat

Di dalam melakukan penelitian perlu diketahui macam-macam penelitian sosial dan teologi.

Bidang penelitian : Sosial dan teologi.

Tempat : Perpustakaan dan lapangan

Tujuan : Pendalaman (eksplorasi), mengamati perkembangan

(developmental), menguji teori (verifikasi)

Jenis penelitian : historis faktual mengenai tokoh, historis-faktual mengenai naskah

atau buku, historis faktual mengenai teks naskah, mengenai suatu

konsep sepanjang sejarah, komparatif, pandangan filosofis di

lapangan, sistematis reflektif, mengenai masalah aktual, korelasi,

studi kasus.

Metode : kuantitatif dan kualitatif

Logika : Deduktif (dari umum ke khusus) dan induktif (dari khusus

ke umum).

Beberapa Istilah dalam Penelitian Ilmiah

Di dalam penelitian ilmiah ada beberapa komponen ilmu yang harus ada di dalam pengembangan ilmu itu.

1. Fenomena

Gejala, fakta atau kejadian yang ditangkap oleh indera manusia.

2. Konsep

Gejala, fakta atau kejadian yang diserap indera manusia dan kemudian diabstraksikan dengan nama, lambang atau simbol, dan istilah-istilah. Jadi konsep adalah bentuk penyederhanaan dari fenomena.

3. Istilah

Nama dan lambang diberi persepsi yang sama.

4. Definisi

Istilah yang dijelaskan secara khusus dalam kalimat yang mengungkapkan makna secara menyeluruh.

5. Pengertian

Definisi yang dijelaskan secara khusus.

6. Fakta

Fakta yaitu hubungan-hubungan yang telah ditemukan dan ditunjang data empirik.

7. Proposisi

Hubungan antar faktor atau konsep yang dapat dinilai benar atau salah.

8. Teori

Jalinan fakta atau konsep yang terkait secara sistematis dengan definisi dan proposisi sehingga dapat menjelaskan gejala.

Peran dari teori adalah: pertama, sebagai orientasi; kedua, sebagai konseptualisasi dan klasifikasi; ketiga, sebagai generalisasi; keempat, sebagai peramal fakta; kelima, untuk menunjukkan kesenjangan dalam pengetahuan kita.

9. Hukum atau dalil

Teori yang sudah teruji dan bertahan.

10. Asumsi dasar

Disebut juga postulat, yaitu fakta yang tidak perlu lagi diuji kebenarannya.

11. Hipotesis

Rumusan proposisi untuk diuji secara empirik atau pernyataan sementara yang perlu diuji kebenarannya secara empirik.

12. Definisi operasional

Petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur.

13. Variabel

Sebuah konsep yang mempunyai variasi nilai.

Dari semua istilah-istilah di atas, maka dalam penelitian sosial/teologi ada beberapa hal yang perlu diperluas pengertiannya:

1. KONSEP

Penggambaran secara abstraksi suatu gejala sosial atau gejala alamiah. Contoh, gambaran tentang prestasi kerja disebut konsep produktivitas, menggambarkan pelayanan gembala disebut konsep penggembalaan. Jadi konsep merupakan generalisasi dari sekelompok gejala tertentu sehingga dapat dipakai menggambarkan gejala yang sama. Konsep dalam ilmu sosial biasanya umum dan abstrak sehingga sukar diukur kepastiannya. Seperti konsep penggembalaan yang efektif berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya, walaupun ada kesamaan.

2. PROPOSISI

Pernyataan tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Misalnya, hubungan antara gembala dengan jemaatnya merupakan salah satu penentu suksesnya penggembalaan.

3. TEORI

Sebuah set konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set yang mengandung suatu pandangan sistematis dari gejala. Teori merupakan informasi ilmiah yang didapat dengan cara meningkatkan abstraksi pengertian maupun hubungan proposisi.

Teori menunjukkan hubungan antara fakta-fakta. Fakta didapat atau dibuktikan secara empiris. Fungsi dari teori adalah, 1) mengarahkan perhatian atau untuk menerangkan, 2) merangkum pengetahuan, 3) meramalkan fakta, 4) memeriksa gejala.

Teori berhubungan dengan fakta, karena teori mengungkapkan fakta baru dan sebaliknya fakta melahirkan teori. Beberapa fungsi dari fakta: 1) menolak teori yang sudah ada sebelumnya; 2) menelurkan teori baru; 3) mempertegas atau mempertajam teori yang sudah ada.

4. VARIABEL

Sebuah konsep yang mempunyai nilai. Misalnya, seks adalah variabel karena memiliki nilai laki-laki dan perempuan. Hal lain misalnya, berat badan, tinggi badan, umur, pendidikan, golongan, jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan.

Kerangka Penelitian

Di dalam setiap buku penelitian ada banyak sekali model kerangka penelitian. Tetapi di dalam setiap penelitian sosial/teologi selalu memakai prinsip:

1. Perumusan masalah

2. Penyusunan kerangka teoritis dan pengajuan hipotesis

3. Metodologi penelitian

4. Hasil penelitian dan pembahasan

5. Kesimpulan, diskusi, implikasi, dan saran

Kerangka penelitian ini akan diuraikan secara rinci pada bagian berikutnya.

Perumusan Masalah Penelitian

Langkah pertama dalam penelitian adalah mengemukakan masalah. Masalah itu didapat dari pengamatan karena terjadinya kesenjangan antara sesuatu yang diharapkan dan sesuatu kenyataan. Artinya terdapat ketidaksesuaian antara yang didambakan dan fakta yang ada.

Harus disadari bahwa masalah biasanya berkaitan satu dengan yang lainnya. Jadi sesuatu disebut masalah bila ada dalam konteks sesuatu, misalnya konteks gereja, teologis, sosial kemasyarakatan, dsb. Misalnya, malas bekerja di rumah bukan masalah, tetapi malas di kantor sehingga terjadi kemerosotan kerja baru menjadi masalah karena konteks sebuah lembaga telah dipengaruhinya.

Masalah biasanya tidak akan pernah habis, karena bila diselesaikan yang satu akan muncul masalah baru. Itulah penelitian yang tidak pernah berkesudahan.

Beberapa pokok dalam mengajukan masalah:

1. Latar Belakang Masalah

Dalam latar belakang masalah harus diceritakan mengapa kita memilih masalah penelitian, yaitu menjelaskan apa yang telah kita ketahui, serta situasi yang melatarbelakanginya. Misalnya, kita ingin meneliti adakah hubungan antara efektivitas kepemimpinan gembala dengan peningkatan jumlah anggota jemaat. Maka si peneliti mulai menjelaskan pentingnya kepemimpinan gembala.

2. Identifikasi Masalah

Dalam skripsi seringkali juga disebut sebagai "pokok masalah". Dalam hal ini perlu diidentifikasi yang menjadi obyek masalah. Ini adalah penting untuk menguasai suatu masalah yaitu dengan mengenal masalahnya. Dengan kata lain, ini adalah suatu tahap awal dalam penguasaan masalah di mana suatu obyek tertentu dalam situasi tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah.

Tujuan identifikasi masalah adalah agar peneliti maupun pembaca mendapatkan fokus masalah yang berhubungan dengan judul penelitian.

Ada beberapa kesulitan dalam membuat identifikasi masalah. Pertama, kemiskininan material yaitu mencari apa yang akan menjadi masalah. Kedua, kesmiskinan metodologis yaitu bagaimana memecahkan masalah.

Jalan keluarnya adalah 1) jadilah spesialis dalam bidang yang diminati; 2) bersikap kritis dalam membaca, mendengar, dan berpikir; 3) ungkapkan kembali gagasan-gagasan dan penelitian-penelitian yang terkini.

Praktek menemukan masalah!

Apa saja masalah yang ditemui dalam penggembalaan:

1. Khotbah gembala kurang menarik

2. Gembala kurang berkunjung

3. ...

Dengan memperhatikan contoh di atas, maka dibuatlah identifikasi masalah. Misalnya,

1. Adakah upaya perkunjungan yang efektif dalam gereja?

2. Apakah terdapat hubungan antara kepemimpinan gembala dengan peningkatan jumlah kuantitas anggota gereja?

3. Pembatasan Masalah

Masalah yang diteliti biasanya sangat kompleks dan luas, sehingga perlu dibatasi. Namun dibatasinya penelitian harus didasarkan alasan yang tepat, baik secara teoritis maupun praktis.

Pembatasan masalah ialah usaha untuk menetapkan batasan-batasan dari masalah penelitian. Tujuannya untuk memberikan identifikasi secara jelas mana yang termasuk lingkup masalah penelitian dan mana yang bukan.

Misalnya, efektivitas kepemimpinan gembala maka fokusnya adalah efektivitas. Lalu sisi efektivitas yang mana diteliti, apakah manusianya, budaya kerja, atau organisasi, etos kerjanya, dsb.

Jadi pembatasan masalah untuk memfokuskan pada penelitian, sehingga rumusan masalah menjadi jelas.

Sejauh mana pembatasan masalah itu? Faktor yang menjadi membatasi adalah, (1) peneliti sendiri; (2) pembimbing penelitian atau konsultan; (3) pendukung dana yaitu yang menyumbangkan dana penelitian.

Ada beberapa pertimbangan dalam membatasi masalah:

(1) Manageable: Peneliti mampu melaksanakan penelitian. Dalam hal ini peneliti harus melakukan penelitian sesuai dengan kemampuannya di mana dia harus mempertimbangkan kemampuannya, dana dan tenaga pendukungnya, ada pembimbing, dan ada yang mendukung.

(2) Obtainable problems: Permasalahan yang telah dibatasi dapat diuji berdasarkan data-data yang bisa didapat di lapangan. Di sini peneliti harus mempertimbangkan kemudahan dalam mengakses data dari sumber data, menguasai teknik pengumpulan data, adanya bahan bacaan yang cukup sehingga mampu menelorkan hipotesis yang akurat, dan juga kendala-kendala manusia di lapangan.

(3) Significance problems: Masalah yang dibahas itu memiliki nilai untuk diteliti, yaitu ada unsur berharga, penting, serta aktual. Yang dimaksud adalah patut untuk mempertimbangkan bahwa hasil penelitian itu penting bagi keilmuan dan dunia praktis, tidak merupakan duplikasi penelitian, dan kalau diulang karena ada alasan yang jelas.

(4) Interested problems: Yaitu masalah yang dibatasi sesuai dengan minat si peneliti. Jadi dalam bagian ini peneliti harus mempertimbangkan minatnya dan tidak karena alasan-alasan di luar dirinya seperti hanya karena proyek, dsb.

4. Perumusan Masalah

Merumuskan masalah adalah suatu upaya menyusun secara eksplisit pertanyaan-pertanyaan penelitian yang perlu dicarikan jawabannya. Jadi setelah mengidentifikasi masalah dan membatasi masalah, maka perlu dirumuskan secara tersurat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara lengkap dan rinci. Dengan merumuskan masalah dengan tepat, sebenarnya setengah dari masalah sudah terselesaikan, karena perumusan masalah telah mengarahkan cara berpikir kita.

Perumusan masalah dapat dilakukan secara deskriptif, komparatif, asosiatif: Contoh deskriptif: Seberapa jauh efektivitas pelayanan perkunjungan di gereja A? Seberapa tinggi pemimpin/gembala telah melaksanakan tindak lanjut keputusan tentang perkunjungan di gereja A?

Contoh komparatif: Bagaimana perbedaan pelayanan perkunjungan di gereja A dengan di gereja B? Apakah terdapat perbedaan efektivitas perkunjungan di gereja A dengan di gereja B?

Contoh asosiatif: Apakah terdapat hubungan antara perkunjungan dengan kepemimpinan gereja? Bagaimana hubungan antara perkunjungan dengan kepemimpinan? Adakah kaitan antara perkunjungan dengan kepemimpinan?

5. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian perlu dinyatakan secara tersurat. Maksud membuat tujuan penelitian adalah membuat pernyataan tentang apa yang hendak dicapai dalam penelitian, sehingga pembaca bisa tahu maksud dari penelitian ini.

Tujuan penelitian dapat dibagi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah penjelasan yang bersifat gambaran umum atas konsep-konsep, sedangkan tujuan khusus membuat konsep-konsep lebih spesifik. Pembuatan tujuan penelitian harus berpedoman pada perumusan masalah yang sudah dibuat.

6. Kegunaan Penelitian

Ini bisa disamakan dengan manfaat penelitian. Perlu dijelaskan dalam penelitian kegunaan penelitian yang dibagi menjadi dua yaitu kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis. Kegunaan teoritis yaitu diharapkan hasil penelitian memberikan sumbangan pengembangan konsep-konsep, teori-teori. Kegunaan praktis yaitu kegunaannya disebutkan untuk siapa. Misalnya, berguna bagi para gembala, mahasiswa teologi, dsb.

Penyusunan Kerangka Teori dan Hipotesis

Kerangka teoritis meliputi dua hal: (1) deskripsi teoritis dan pembahasan penelitian yang pernah ada yang relevan dengan topik penelitian; (2) kerangka berpikir teoritis yang diperoleh dari kajian teori yang digunakan.

1. Deskripsi Teoritis dan Pembahasan Terhadap Penelitian Sebelumnya

Pada bagian ini dibahas deskripsi dan kajian teori-teori yang relevan. Bisa juga mengadakan interaksi atas keunggulan satu teori dengan yang lainnya, dan mana yang menurut kita dapat menjadi acuan.

Juga dibahas hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan masalah penelitian yang kita ajukan. Tentu kita harus menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya belum menjawab apa yang menjadi permasalahan yang kita ajukan. Usahakan untuk mencari sumber aslinya, dan jangan hanya mengutip dari sumber kedua.

Sebagai contoh bila kita mengajukan masalah tentang perkunjungan dan hubungannya dengan pertumbuhan gereja, maka yang pertama dibahas adalah apakah hakekat dan karakteristik dari perkunjungan itu. Secara teori bagaimana perkunjungan yang baik itu dilaksanakan?

Lalu langkah selanjutnya adalah mencoba mengidentifikasi hubungan antara perkunjungan dan pertambahan jemaat. Misalnya mencari faktor-foktor penunjang ataupun penghambat efektivitas perkunjungan jemaat.

2. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir disusun berdasarkan deskripsi teoritis di atas yaitu hasil dari tinjauan pustaka dan penelitian sebelumnya. Isi dari kerangka berpikir adalah suatu penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi obyek masalah. Jadi ini merupakan argumentasi di dalam merumuskan hipotesis. Argumentasi kerangka berpikir dalam penelitian sosial biasanya memakai logika deduktif (dari umum ke khusus). Dalam penelitian teologis, maka dipakai juga logika induktif. Kerangka berpikir juga tidak boleh merupakan jiplakan dari yang lain, tetapi harus merupakan buatan sendiri. Kerangka berpikir itu harus bersifat analitis, sistematis, dan memakai teori yang relevan.

Dalam menyusun kerangkan berpikir maka:

a. Teori yang dipakai haruslah dikuasai dan juga merupakan teori yang terakhir. Dijelaskan mengapa kita memilih memakai suatu pendekatan dan bukan dengan pendekatan yang lain.

b. Analisis filosofis dari teori harus dibahas secara tersurat dengan menyebutkan asumsi dan prinsip yang mendasarinya.

Dengan demikian maka argumentasi dari kerangka berpikir dapat dipertanggungjawabkan dan melahirkan kesimpulan. Kesimpulan inilah yang kita sebut dengan rumusan hipotesis. Misalnya, berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jika perkunjungan diintensifkan, maka nampak adanya penambahan jumlah dan mutu anggota jemaat. Jadi terdapat relasi atau keterkaitan secara positif antara perkunjungan dan jumlah jemaat.

Kesalahan yang harus dihindari dalam menyusun landasan teori:

1) Peneliti melakukan pengkajian secara tergesa-gesa.

2) Hanya mengandalkan data atau sumber sekunder (secondary resources).

3) Membaca hasil penelitian dengan hanya memperhatikan hasilnya, dan bukan metode dan cara mengukurnya.

4) Tidak memperhatikan hasil penelitian yang dilakukan majalah atau surat kabar.

5) Tidak mampu membuat batas masalah dalam menerapkan penggunaan kepustakaan.

6) Mencatat data biografi tidak benar sehingga tidak dapat dipakai sebagai referensi.

7) Memakai bahan bacaan yang tidak sesuai dengan obyek permasalahan.

Catatan: perlu diperhatikan bahwa kerangka teoritis dan kerangka berpikir dapat disatukan agar tidak terjadi pengulangan. Jadi tujuan penyatuan agar membawa pemaparan landasan teori ke arah berpikir yang argumentatif.

3. Asumsi

Di dalam menyusun landasan teori dan kerangka berpikir, maka perlu dibuat asumsi, postulat, dan prinsip. Asumsi ini harus dilakukan karena tidak boleh ada perbedaan antara asumsi peneliti dan pembaca hasil penelitian, karena tidak akan diterimanya hasil penelitian.

Asumsi adalah pernyataan yang dapat diuji kebenarannya secara empiris. Postulat adalah pernyataan yang kebenarannya tidak perlu diuji, dan prinsip adalah pernyataan yang berlaku umum bagi gejala tertentu dan mampu menjelaskan gejala yang terjadi.

a. Asumsi bersifat operasional sehingga menjadi dasar bagi pengkajian teoritis.

b. Asumsi menyatakan yang sebenarnya dan bukan seharusnya.

c. Asumsi harus sejajar dengan teori yang dipakai.

d. Asumsi harus ditulis secara tersurat.

Mengapa kita menggunakan teori partisipatif dan bukan teori koersif (kekerasan) dalam perkunjungan? Asumsinya adalah bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk dilayani. Asumsi lain bahwa Tuhan mengasihi orang yang terhilang, sehingga perlu dilakukan perkunjungan.

4. Perumusan Hipotesis

Seperti sudah disampaikan, bahwa kesimpulan dari kerangka berpikir adalah hipotesis yaitu kesimpulan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Jadi hipotesis adalah pernyataan sementara terhadap rumusan penelitian dan itu didapat dari landasan teori yang dibahas.

Kegunaan hipotesis (kutipan):

1) Memfokuskan masalah

2) Mengidentifikasikan data-data yang relevan untuk dikumpulkan

3) Menunjukkan desain penelitian, termasuk teknik analisis yang akan digunakan

4) Menjelaskan gejala sosial

5) Mendapatkan kerangka penyimpulan

6) Merangsang penelitian berikutnya

Kriteria perumusan masalah (kutipan):

1) Harus menyataan pertautan dua variabel atau lebih

2) Harus jelas, tidak membingungkan, dan dalam bentuk deklaratif (pernyataan)

3) Harus dapat diuji secara empiris, artinya seseorang mengumpulkan data yang tersedia di lapangan guna menguji kebenaran hipotesis tersebut.

Jenis hipotesis:

1) Hipotesis penelitian (hipotesis alternatif) atau hipotesis kerja. Biasanya ditandai dengan pernyataan: "terdapat hubungan" atau "terdapat perbedaan".

2) Hipotesis nol sama dengan hipotesis statistika yaitu berupaya menemukan ketidakbenaran, yang biasanya dimulai dengan kata "tidak terdapat hubungan" atau "tidak terdapat perbedaan".

Penetapan hipotesis harus berhubungan dengan rumusan masalah yang diangkat. Contoh: Lihat Husaini & Akbar, 39-40.

Setelah mendapatkan rumusan masalah dan hipotesis, maka baru dapat dibuat judul dengan tepat. Judul pada dasarnya dibuat sebelum penelitian. Tetapi penetapan judul secara pasti baru dapat dibuat secara pasti setelah diketahui rumusan masalahnya. Atau dapat juga dilakukan setelah selesai melakukan observasi kepustakaan, baik secara teori maupun tinjauan lapangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan judul (Husaini & Akbar, 41):

1. Judul harus merupakan keseluruhan isi yang terdapat di dalam tulisan.

2. Perumusan kalimat dalam judul harus sederhana dan jelas maksudnya.

3. Judul memakai kalimat pernyataan dan bukan kalimat tanya.

4. Judul harus singkat dan biasanya diharapkan maksimal 10 kata. Tetapi ingat nama instansi atau lembaga dianggap satu kata seperti Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Sintang.

5. Judul harus memakai bahasa Indonesia yang baik, benar dan baku.

6. Obyek dari judul harus jelas.

METODOLOGI PENELITIAN

Langkah berikut dalam penelitian adalah membahas tentang metode yang digunakan dalam penelitian.

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Pada awal bagian ini perlu dijelaskan tentang di mana penelitian dibuat atau dilaksanakan dan batas waktu dimulai dan berakhirnya penelitian. Tujuannya jelas bahwa penetapan ini bermanfaat untuk membatasi daerah dan waktu dari variabel yang diteliti sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Dan memberikan ruang gerak bagi yang lain untuk melakukan penelitian di daerah dan waktu yang berbeda.

B. Metodologi Penelitian

Di dalam metodologi penelitian, kita menjelaskan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Ada beberapa istilah yang perlu dijernihkan: 1) Metode adalah prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang memiliki langkah-langkah yang sistematis; 2) Metodologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode.

Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal yang menjadi metodologi penelitian:

1. Penentuan variabel pokok

2. Penentuan populasi dan sampel

3. Penentuan teknik pengumpulan data

4. Instrumen penelitiannya

5. Teknik analisis data

C. Penentuan Variabel Pokok

Pada bagian ini dibuat variabelnya yaitu variabel independen dan dependennya berdasarkan hipotesis yang diajukan. Setelah itu jelaskan pelaksanaan pengukuran variabelnya, yaitu pemakaian skala pengukuran dan cara mengukurnya. Contoh: kinerja lembaga STTJ dengan tingkat kepuasan mahasiswa.

D. Penentuan Populasi dan Sampel

Di dalam penentuan populasi dijelaskan secara tersurat jumlah keseluruhan obyek yang diteliti baik secara kuantitas ataupun kualitas. Yang dimaksud dengan jumlah keseluruhan adalah hasil perhitungan ataupun pengukuran. Misalnya bila hendak meneliti mahasiswa STTJ, maka yang disebut populasi adalah seluruh mahasiswa tanpa terkecuali. Dengan mengetahui populasi, maka dapat ditetapkan besarnya sampel, di mana sampel diambil dari populasi yang ada.

Populasi dapat bersifat homogen atau heterogen, dan bisa terbatas dan tak terbatas. Bila seluruh populasi diteliti, maka populasi disebut sampel total. Pengambilan sampel harus memakai rumus, grafik, dan tabel yang sudah baku (Lihat Sumanto, 23-dst.).

Penelitian dapat dilakukan dengan penelitian populasi, artinya seluruh subyek dalam lingkup penelitian harus dijadikan subyek penelitian. Sedangkan sifat penelitian sampel adalah hanya sebagian subyek penelitian yang dipilih karena dapat dianggap mewakili keseluruhan. Tentu ada pertimbangan biaya, tenaga dan waktu sehingga hanya sebagian populasi yang diteliti.

Bagaimana menetapkan besarnya sampel:

Pada prinsipnya tidak dapat ditentukan jumlah dari sampel yang baik. Umumnya diakui bahwa semakin banyak sampel, semakin representatif hasil penelitian. Tidak ada pedoman pasti jumlah minimum sampel dari populasi yang ada. Namun ada pertimbangan dalam menentukan besar dan kecilnya sampel:

1. Adanya derajat kesamaan populasi yang diteliti

2. Ketelitian hasil penelitian yang dikehendaki

3. Perlu mempertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya.

Memang jumlah sampel minimum yang diperlukan tergantung dari penelitian itu sendiri. Untuk penelitian deskriptif minimal 10% dari populasi, penelitian korelasi memakai 30 subyek, penelitian kausal-komparatif – 30 subyek per kelompok, peneltian eksperimen – 50 subyek per kelompok (Sumanto, 28).

E. Teknik Pengambilan sampling/contoh (Teknik Sampling)

Di dalam menentukan sampel dipakai teknik sampling. Mengapa perlu memakai teknik sampling? Ada beberapa tujuan: 1) memperkecil jumlah populasi sehingga representatif dan dapat dipertanggungjawabkan; 2) akan lebih baik dalam penghitungan daripada yang banyak, serta dapat terjangkau dari segi waktu, dana dan tenaga.

Kriteria yang dipakai dalam mengambil sampel: 1) tentukan daerah secara tepat; 2) jelaskan batasan dari sifat populasi secara tegas; 3) jelaskan karakteristik populasi; misalnya tentang suku Dayak, maka bisa dicari dari perpustakaan karakteristik suku Dayak itu (atau dari dokumen dan wawancara); 4) tentukan teknik sampling dan tentukan besaran sampel sehingga tercapai maksud penelitian.

Ada 4 teknik pemilihan sampling acak (random sampling):

1. Pemilihan sampling random (Random Sampling)

Proses pemilihan sampel secara acak, tetapi semua orang dalam populasi mempunyai kesempatan dan kebebasan yang sama terpilih sebagai sampel. Misalnya, mahasiswa STTJ didaftar lalu dibuatkan nomor, dan kita tinggal melihat nomornya lalu dipilih tanpa melihat namanya (tergantung apakah kita mengenal populasi atau tidak).

2. Pemilihan sampling strata (Stratified Sampling)

Pemilihan sampel di mana dipilih subkelompok yang diinginkan populasi sehingga terwakili atau menjadi sampel yang representatif. Misalnya, masalah usia, pendidikan, golongan (guru SD, SMP, SMA), tingkatan, dsb. Pemilihan juga dilakukan secara acak, tetapi dalam subpopulasi yang diinginkan.

3. Pemilihan sampling cluster (Cluster Sampling)

Ini dinamakan teknik pemilihan sampel daerah yaitu menentukan jumlah sampel berdasarkan tersebarnya populasi di daerah, propinsi, kecamatan, dsb. Juga bisa memakai lokasi gereja yang berbeda. Misalnya ada 50 hamba Tuhan yang mau diteliti di Makassar, maka dipilih gereja sebanyak 10, maka tiap gereja dicari yang ada 5 hamba Tuhannya.

4. Pemilihan sampling sistematis (Systematic Sampling)

Pemilihan sampel atau individu berdasarkan daftar yang sudah ada pada suatu instansi atau lembaga Jadi peneliti tinggal memilih nama-nama yang sudah ada.

Ada juga teknik pemilihan sampling non-random

1. Kuota sampling: sampel yang menekankan pada jumlah kuantitas.

2. Purposive sampling: sampel dipilih berdasarkan karakteristik tertentu seperti mahasiswa penerima beasiswa.

3. Aksidental sampling: pemilihan sampel berdasarkan teknik memilih siapa yang dijumpai, seperti orang berbelanja di mal.

Kesesatan dalam sampel:

Biasanya kesalahan dalam pengambilan contoh bukan terletak pada acaknya pengambilan sampel. Tetapi kesalahan dilakukan secara sengaja dan kesalahan umumnya dilakukan oleh peneliti sendiri. Pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan sukarelawan yang tidak mengerti prosedur penelitian. Ini seringkali dipakai untuk penelitian. Misalnya, dilarang mengambil contoh dari mahasiswa STTJ bila mau meneliti jemaat. Tetapi karena buru-buru, ada saja yang menggunakannya. Ini harus dilaporkan dalam penelitian.

F. Teknik Pengumpulan Data

Data di lapangan berfungsi sebagai bentuk pengujian hipotesis yang telah diturunkan dari kerangka teoritis/tinjauan pustaka. Pengumpulan data yang bermetode disebut teknik pengumpulan data. Logika yang dipakai dalam menganalisis data adalah logika induktif.

Ada beberapa bentuk pengumpulan data:

1. Observasi

Yang dimaksud dengan observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap fenomena yang hendak diteliti. Observasi meliputi kegiatan fisik yaitu mata, telinga, dan juga kegiatan psikologis di mana melibatkan keingintahuan kita. Hal yang perlu dilakukan agar observasi dapat berjalan dengan baik:

a. Amati data-data yang ada sebanyak-banyaknya.

b. Libatkan orang lain.

c. Mampu beradaptasi dengan cara ikuti kebiasaan setempat, kurangi prasangka, miliki proyeksi.

Dalam observasi si peneliti harus mengingat:

a. Buat catatan.

b. Gunakan media elektronik untuk merekam gambar, suara, ataupun momen yang hendak diamati.

c. Cari narasumber atau pengamat yang akan memberikan persepsi.

d. Fokus kepada data yang diteliti.

e. Klasifikasikan fenomena dalam grupnya.

f. Gunakan bahan pustakan seperti buku untuk menambah persepsi tentang obyek yang diteliti. Seperti Suku Dayak, banyak diterbitkan buku tentangnya.

Pedoman dalam melaksanakan observasi:

a. Kuasai apa dan bagaimna itu observasi.

b. Sejajarkan dengan tujuan penelitian.

c. Buat catatan dengan sistematis menurut kategorinya.

d. Observasi jangan terlalu banyak kategorinya, cukup hal yang kecil namun efektif.

e. Pelihara hubungan dengan masyarakat yang diobservasi.

f. Periksa alat bantu dan waktunya.

Jenis-jenis Observasi:

a. Observasi partisipatif

Peneliti terlibat langsung dalam obyek yang diteliti. Misalnya, Anda adalah pelayan Tuhan di suatu gereja di mana gereja itu diteliti.

b. Observasi nonpartisipatif

Peneliti hanya menjadi "penonton" bagi obyek yang diamati.

c. Observasi sistematis

Peneliti sudah menyiapkan kerangka acuan hal-hal yang akan diamatinya

d. Observasi eksperemental

Peneliti menyiapkan suatu suasana yang mirip dengan aslinya, lalu diamati.

Alat bantu observasi:

a. Daftar riwayat kelakuan

b. Catatan berkala

c. Daftar catatan

d. Pencatatan menurut tingkatannya

e. Alat elektronik

Tingkat keberhasilan observasi:

a. Bila berhasil meminimalisasi prasangka dan keinginan pengamat.

b. Bila mengoptimalkan alat bantu observasi.

c. Bila mampu melibatkan orang lain dalam pengamatan.

d. Bila mampu melihat hubungan sebab akibat.

e. Bila bisa mencatat dan membuat record secara teliti

f. Bila pengamat telah memiliki persepsi yang cukup tentang obyek yang diamatinya.

Beberapa kesesatan/kesalahan dalam observasi:

a. Peneliti hanya memfokuskan kepada hal-hal yang baik dari yang diamati, karena faktor relasi yang baik.

b. Peneliti ingin memberikan keuntungan kepada sesuatu yang diamati karena adanya maksud-maksud tertentu.

c. Peneliti tidak mampu membedakan gejala yang ada.

2. Wawancara

Wawancara adalah cara memperoleh data dengan cara tanya jawab dengan tatap muka antara pewawancara dengan responden. Bagaimana dengan lewat telepon, teleconference? Bisa dilakukan sepanjang terjadi dialog tanya jawab langsung. Dalam wawancara dibuatkan panduan wawancara yang pertanyaannya telah disiapkan sebelumnya.

Karakteristik wawancara: 1) umumnya responden dan pewawancara belum saling mengenal; 2) responden yang selalu menjawab, 3) dan pewawancara yang selalu bertanya; 4) pertanyaan selalu bersifat netral dan tidak menjuruskan kepada jawaban yang diinginkan peneliti; 5) tanya jawab berlangsung dengan panduan yang telah ditetapkan.

Alat bantu bisa dipakai dalam wawancara seperti alat perekam, audio-video, dan alat yang lainnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan teknik wawancara ini:

a. Tulis secara langsung hasil wawancara ke dalam buku khusus atau rekaman langsung disalin dalam kertas.

b. Setiap ada data baru dalam catatan buku khusus diberi tanda. Data ini dipakai untuk konfirmasi kepada responden berikutnya.

c. Suasana wawancara perlu dipelihara, sehingga responden merasa nyaman dalam menjawab. Hal yang perlu diperhatikan adalah waktu, tempat, dan situasi yang dialami responden.

d. Wawancara biasanya selalu bersifat bola salju, yaitu akan ada penambahan data setiap kali bertanya. Biarkan saja itu terjadi sepanjang dapat mengungkapkan data penelitian. Jadi perlu keterbukaan.

e. Usahakan dalam wawancara dilakukan 2 orang, di mana satunya mengajukan pertanyaan dan menatap wajah responden dan satunya mencatat apa yang dihasilkan. Jangan sibuk mencatat. Cuma buat suasana seinformal mungkin dan jangan tegang.

Ada beberapa cara dalam mengungkapkan pertanyaan: 1) Jangan memakai kata sulit atau memojokkan; 2) Jangan memakai pertanyaan yang bersifat umum; 3) Jangan menggunakan pertanyaan yang sifatnya mendua; 4) Jangan memakai kata yang samar-samar artinya; 5) Tidak memakai pertanyaan yang mengandung sugesti; 6) Jangan menggunakan pertanyaan preasumsi; 7) Tidak boleh mengajukan pertanyaan yang membuat orang malu.

Untuk wawancara etnografi, maka ada beberapa pertanyaan yang bisa dipakai dalam melihat satu suku, dsb. (Sujarwo):

1. Pertanyaan Grand Tour

Pertanyaan yang bersifat umum, seperti seperti dalam pariwisata yaitu adanya pemandu. Jadi jawaban bergantung pada pemandu.

a. Tipikal: Bagaimana Anda menceritakan bagaimana cara membuat perlengkapan ini?

b. Spesifik: Dapatkah Anda menceritakan hal-hal yang terjadi tadi malam?

c. Terbimbing: Dapatkah Anda menceritakan keadaan sekitar kantor ini?

d. Berhubungan dengan tugas: Dapatkah Anda membuatkan sketsa tentang daerah ini?

2. Pertanyaan contoh

Minta responden untuk menjelaskan beberapa contoh.

3. Pertanyaan pengalaman

Minta responden menceritakan pengalamannya atas hal-hal yang diperbuatnya.

4. Pertanyaan bahasa asli

Dalam penelitian etnografi, responden bisa menjawab dalam bahasa asli, untuk mendapatkan rasa dari bahasa itu.

3. Kuesioner

Alat pengumpul data yang paling populer adalah kuesioner atau angket. Alat ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari berbagai sasaran penyelidikan di kelompok-kelompok. Jadi kuesioner bukan untuk mendapatkan informasi hanyad ari satu atau dua orang, tetapi dari kelompok dalam suatu gereja atau masyarakat.

Fungsi Kuesioner

Fungsi dari kuesioner setidaknya ada 2 yaitu: 1) fungsi deskripsi atau untuk mendapatkan gambaran; 2) pengukuran untuk mendapatkan sikap-sikap dari variabel-variabel yang diteliti.

Fungsi deskripsi adalah pengumpulan informasi dengan menyebarkan kuesioner sehingga dapat diberikan gambaran tentang ciri-ciri individu atau kelompok. Misalnya peneliti akan mendapat gambaran tentang jenis kelamin, usia, tahun pendidikan, pekerjaan, pendapatan, partai politik yang dipilih, agama yang dianut, kumpulan-kumpulan yang diikuti. Tujuannya untuk menolong peneliti mendapatkan pengetahuan mengapa suatu kelompok berperilaku tertentu, produktivitas kerja, persaingan, dsb.

Fungsi ukuran adalah pengumpulan informasi dengan menyebarkan kuesioner sehingga didapat sikap-sikap, seperti: jarak sosial, persepsi tentang kelompok, derajat, prasangka ras, kebebasan seksual, keberagaman, kecemasan, kejelasan peran, dan keterasingan.

Tipe Kuesioner

Tidak pernah ada kepastian soal batasan kuesioner. Bisa hanya 2 pertanyaan, bisa juga 100 pertanyaan (bahkan 100 halaman). Tidak ada penetapan jumlah minimal soal kuesioner. Setiap peneliti bertanggung jawab menetapkan tujuan dan mencapainya lewat ukuran yang telah ditetapkan.

a. Tipe respons yang diminta dapat dikategorikan dengan kuesioner (1) tertutup; (2) terbuka; (3) gabungan keduanya.

1) Yang dimaksud dengan kuesioner tertutup adalah kuesioner yang pernyataan dan pertanyaannya telah ditentukan oleh peneliti. Ini diasumsikan bahwa si peneliti sudah memahami masalah yang ada dan ingin mendapatkan gambaran atas sikap dari kelompok yang diteliti.

2) Kusioner terbuka adalah pengajuan dengan pertanyaan-pertanyaan, di mana responden diminta untuk menjawab pertanyaan baik jawaban pendek maupun jawaban panjang.

3) Kuesioner dapat menggabungkan keduanya sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

b. Tipe penyebaran kuesioner dapat dilakukan dengan: (1) lewat pos atau tidak langsung; (2) pemberian kuesioner langsung atau tatap. Muka.

1) Lewat pos dimaksudkan bahwa kuesioner dikirimkan kepada responden. Cara ini sangat ekonomis karena dapat menjangkau lebih banyak tempat dan orang, tanpa harus pergi ke rumahnya. Dan juga responden merasa nyaman menjawab karena di rumah dan tidak ada tekanan. Cuma tingkat pengembaliannya sangat rendah (biasanya 70% tidak kembali menurut Black &Champion, 334). Itu sebabnya si peneliti harus membuat kuesioner yang menarik, disertai perangko balasan, dan ucapan terima kasih serta menjelaskan betapa berartinya bila mereka mengisi dan mengembalikan kuesioner ini.

2) Kuesioner tatap muka terjadi biasanya di kampus, atau di kantor-kantor, di mana dosen meminta mengisi kuesioner, atau pegawai diminta mengisi oleh atasannya. Kelebihan cara ini adalah kusioner pasti kembali (atau tinggi sekali) dan bila ada pertanyaan yang tidak dimengerti, maka dapat ditanyakan. Cuma cara ini tidak bisa menjangkau responden yang tersebar, karena memakan biaya yang besar.

Menyusun Kuesioner

Menyusun kuesioner bukan sesuatu yang mudah, karena perlu difahami konteks responden dan pada saat yang sama tujuan penelitian tercapai. Itu sebabnya dalam menyusun kuesioner perlu memperhatikan (Black &Champion, 336):

1) Apa definisi dari populasi yang akan diteliti?

2) Apa taraf pendidikan, sosial ekonomi responden?

3) Fakta macam apa yang ingin diketahui dan diteliti?

4) Seberapa jauh responden dapat dijangkau?

5) Bagaimana bentuk kuesioner yang akan diberikan?

6) Pola respons apa yang kita gunakan?

7) Berapa lama kuesioner ini harus diselesaikan?

8) Bagaimana kita bisa mengontrol respons responden terhadap kuesioner kita?

Prinsip dasar yang paling penting adalah mengenali populasi responden dari pendidikan dan sosial ekonomi. Ini diperlukan sehingga dapat disusun pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan mereka menjawab. Juga di dalam membuat kuesioner, pertanyaan dasar sosiologis selalu harus dimasukkan, seperti nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dsb. Bisa ditambah yang lain bila diperlukan, seperti keanggotaan gereja, sudah dibaptis, dsb.

Soal jumlah atau panjangnya kuesioner, saya berpendapat ini sangat bergantung kepada siapa penelitian itu ditujukan. Bila itu atasan kepada bawahan (seperti dosen dengan mahasiswa), maka panjangnya tidak usah dibatasai. Tetapi bila peneliti lepas, perlu memperhatikan tujuan dan pada saat yang sama kemampuan mereka mengisi dan ketersediaan mengisi kuesioner ini. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa tidak ada yang bisa memastikan panjang dan pendeknya kuesioner.

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

Langkah penelitian terakhir adalah memberikan interpretasi atas data yang telah didapat, atau dikenal dengan usaha menganalisis data. Ada banyak cara yang dipakai untuk melakukan analisis data, terutama dalam penelitian sosial dan filsafat. Ini dikarenakan yang dianalisis adalah sikap dan perilaku seseorang, sehingga model pengukuran dipakai dengan cara yang berbeda-beda.

Waktu pengumpulan data dilakukan, pada saat yang sama sebenarnya analisis data bisa dilakukan. Walaupun demikian dalam pelaporan, hal ini dipisahkan tempatnya.

Dasar pijakan melakukan analisis

Ada dua dasar berpijak dalam melakukan analisis data: 1) ada yang memfokuskan produknya (hasil) disebut dengan penelitian kuantitatif; 2) ada yang memfokuskan pada proses disebut penelitian kualitatif.

Pendekatan kuantitatif menekankan kepada:

a. Generalisasi hasil dari rata-rata keragaman yang ada.

b. Cara berpikir dalam menganalisis dengan melakukan korelasi, kausalitas, atau interaktif.

Pendekatan kualitatif menekankan kepada:

a. Logika, yang mencari mana premis mayor dan premis minornya dan mencari juga kesalahan logika.

Analisis Data yang menekankan pada produk (hasil)

b. Langkah pertama adalah melakukan teknik pengumpulan data secara terukur. Misalnya dengan memakai kuesioner. Dan jawaban diusahakan sama (model tertutup). Lalu dari jawaban ini dibuat analisis data.

Contoh:

Berapa kali dalam sebulan Anda ke gereja:

a. 1 kali

b. 2 kali

c. 3 kali

d. 4 kali

Lalu kita membuat koding pembobotan atas data dengan pola ukuran tertentu. Misalnya ada 4 jawaban, maka yang rendah diberi nilai rendah dan yang tinggi diberi nilai tinggi. Misalnya: a. 1 kali diberi skor 1, b. 2 kali diberi skor 2; dst.

Jika ada pertanyaan sebanyak 50, maka skor terendah 50X1 dan skor tertinggi adalah 50X 4 = 200.

Maka jika kita ingin mengukur keaktifan seseorang, maka kita buat pedoman sebagai berikut:

(Skor tertinggi – skor terendah) : kategori = interval

Contoh lalu mendapat 50 sebagai interval:

0-50 = Tidak aktif

51-100 = Kurang aktif

101-150 = Aktif

151 ke atas = Aktif sekali

Namun perlu juga dibuat kode, misalnya dibedakan antara laki-laki dan perempuan.

Cara menganalisis hasil penelitian:

1. Patokannya adalah tujuan penelitian. Jika tujuannya untuk melihat ada hubungan, maka cara menulisnya pun dikatakan terdapat hubungan, dst.

2. Perlu pengolahan data yang kuat, karena dari situ terbaca cara interpretasi kita. Itu sebabnya perlu bantuan ahli statistik untuk membantu dalam pengolahan data.

KESIMPULAN DAN SARAN

Langkah yang terakhir adalah memberikan rangkuman akan apa yang ditulis di depan. Kesimpulan adalah berupa menulis kembali secara ringkas apa yang didapat dalam penelitian. Ingat bukan pengulangan kata, tetapi merangkum isi.

Sedangkan saran, adalah upaya memberikan jalan keluar yang dirasa bermanfaat untuk perbaikan apa yang telah diteliti. Jadi saran tidak masuk di analisis dan data (sebagaimana banyak kesalahan dalam penelitian di STTJ). Juga jangan berkhotbah dalam saran.

 

PENELITIAN KUALITATIF

Lihat juga: "Mengamati Sambil Ikut Serta (Metode Observasi Partisipatif)" oleh James P Spradley.

Pola pendekatan kualitatif berbeda dengan penelitian lainnya, di mana bukan dimulai dari teori tetapi dimulai dari pendekatan kepada kenyataan atau fakta yang ada di lapangan, apa yang dialami oleh responden, dan sesudah itu baru dicari rujukan teorinya. Jadi peneliti melakukan pengamatan terhadap orang dalam lingkungan hidupnya (konteksnya), melakukan interaksi dengan mereka, berusaha untuk memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Dalam konteks gereja, mereka berupaya untuk memahami sebuah proses yang terjadi di dalam gereja. Dengan kata lain penelitian kualitatif berupaya menemukan makna.

Itu sebabnya penelitian ini memakai metode partisipatif di mana peneliti harus terjun langsung menjadi partisipan aktif di kehidupan responden. Tetapi harus diingat bahwa peneliti:

1. Harus merasakan diri berbeda dengan informan, di mana agar dapat melakukan penelitian secara obyektif.

2. Mencatat data dan fakta dengan tidak memberikan interpretasi ataupun opini.

3. Pencatatan harus dilakukan dengan formal, teliti dan konsisten sesuai dengan tujuan dalam penelitiannya.

4. Fenonema yang ada harus dilihat dari konteksnya baik secara fungsi maupun strukturnya. Artinya sebuah peristiwa yang menarik perhatian untuk diteliti harus dilihat alasan dia melakukan itu dari sudut konteks budaya yang diteliti.

Pendekatan kualitatif melakukan pendekatan emic dan etic. Emic artinya mengerti suatu fenomena dalam rangka konseptual informan. Pendekatan etic adalah mengerti suatu fenomena dengan mengacu kepada nilai-nilai yang dianut si peneliti. Keduanya biasa dipakai khususnya dalam penelitian gereja, di mana dalam analisis dan saran bisa dimasukkan pandangan dan usulan dari luar.

Penelitian kualitatif lebih kepada studi kasus di lapangan, misalnya masalah etnografi, dsb.

Ciri utama penelitian kualitatif:

1. Peneliti ikut terlibat langsung dengan responden dan tidak boleh diwakili.

2. Harus bisa mendeskripsikan/menggambarkan semua data yang diperoleh. Itu sebabnya semua data yang diperoleh harus segera dicatat, karena tidak ada yang bisa dilewatkan.

3. Peneliti harus membuat kartu data atas semua yang diamati. Bisa menyusunnya berdasarkan topik yang diamati.

4. Data yang dicatat harus sudah dilakukan cek dan ricek (cross check). Sikap yang harus dimiliki adalah tidak dengan mudahnya percaya akan informasi yang diberikan, sehingga dengan proses pengecekan, didapat data utama.

5. Data yang ditulis bukan hanya fenomena saja, tetapi proses terjadinya fenomena. Jadi pertanyaan "MENGAPA" itu penting, sehingga dapat mendeskripsikan sebuah fenomena dengan rinci dan lengkap.

Contoh (Lihat: Metodologi Penelitian Filsafat oleh Anton bakker and Achmad Ch. Zubair):

Pola Penelitian Historis (Kesejarahan)

Tujuan:

1. Berupaya merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif,

2. Cara dengan menggalinya secara metodologis, kritis

3. Membangun fakta yang ada dan konfirmasi yang tersedia sehingga memperoleh kesimpulan yang teruji.

4. Hipotesis didapat pada saat proses penelitian.

Cirinya:

1. Penelitian historis memungkinkan orang luar ikut membuat analisis.

2. Penelitian historis sangat terbuka sehingga memacu peneliti harus tertib, ketat, sistematis, tuntas. Jadi bukan hanya koleksi informasi.

3. Peneliti memakai berpijak pada data primer dan sekunder. Data primer adalah data pertama yang didapat dari lapangan atau tulisan. Data sekunder adalah tulisan orang lain atau sumber dari peneliti lain. Cuma yang paling penting adalah keotentikan data.

4. Karena meliputi sejarah masa lampau, peneliti harus obyektif yaitu melihat sesuatu berdasarkan konteks masa lalu terebut.

Langkah Penelitian:

1. Rumuskan dengan tegas masalah penelitiannya:

a. Rumuskan mengapa pendekatan historis dipilih dan apa relevansinya dengan masalah penelitian.

b. Data-data: bagaimana menemukan data primer dan sekunder.

c. Apa kegunaan hasil kajian yang dilakukan.

2. Tetapkan secara tegas tujuan apa yang dicapai dalam penelitian. Bila ada hipotesis yang harus diuji, maka harus dijelaskan.

3. Sebutkan data primer dan data sekundernya.

4. Buat laporan dan kesimpulan peneliti.

 

Rancang Bangun Penelitian Historis:

1. Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Masalah dan Permasalahan

Tujuan Penelitian

2. Metodologi

Definisi Operasional

Populasi/Areal Penelitian

(Kurun waktu yang dijadikan penelitian disebutkan)

3. Data Penelitian

Peristiwa sejarah

Historical Setting

4. Analisis Data

Kritik Data

Rekonstruksi Data

Temuan Penelitian

5. Kesimpulan Penelitian

 

RANCANG BANGUN PENELITIAN SOSIAL KUANTITATIF

Bab I Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

2. Perumusan masalah

3. Tujuan Penelitian

4. Kegunaan Penelitian

5. Hipotesis

6. Definisi Konsep

7. Sistematika Penulisan

Bab II Penyusunan Kerangka Teoritis

(Penguatan argumen untuk hipotesis)

Bab III Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambaran tentang Obyek Penelitian

(yang berhubungan dengan tujuan penelitian)

2. Metodologi penelitian

a. Lokasi Penelitian

b. Unit Analisis

c. Populasi

d. Teknik Sampling

e. Sampel

f. Instrumen Penelitian

g. Analisis Data

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab V Kesimpulan dan Saran

Bagian Akhir

1. Masukkan daftar kepustakaan/rujukan

2. Lampiran-lampiran

 

RANCANG BANGUN PENELITIAN SOSIAL KUALITATIF

Bab I Pendahuluan

3. Latar Belakang Masalah

4. Perumusan masalah

5. Tujuan Penelitian

6. Kegunaan Penelitian

7. Definisi Konsep

8. Sistematika Penulisan

Bab II Penyusunan Kerangka Teoritis

(Penguatan argumen untuk hipotesis)

Bab III Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambaran tentang Obyek Penelitian

(yang berhubungan dengan tujuan penelitian)

2. Metodologi penelitian

h. Latar Penelitian

i. Teknik Koleksi Data

j. Instrumen penelitian

k. Tahap-tahap Penelitian

l. Analisis Data

m. Teknik Keabsahan Data

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab V Kesimpulan dan Saran

Bagian Akhir

1. Masukkan daftar kepustakaan/rujukan

2. Lampiran-lampiran

Last Updated on Tuesday, 06 November 2012 01:51

Events

mengundang

agenda

Statistik Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
Today: Nov 29, 2014

Twitter


Ads on: Special HTML

Alamat

Dr. Daniel Ronda
08124222711 / 0411-5744185
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan Indonesia

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP