Menjadi Guru Agama Kristen Profesional

Tuesday, 28 February 2012 04:25 Akmal
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Oleh Pdt. Daniel Ronda

Latar Belakang Pergumulan Pendidik

Profesi pendidik agama Kristen di sekolah negeri maupun swasta memiliki keistimewaan, karena dia sedang menolong kebutuhan anak didik dalam menemukan panggilan sang juruselamat, Yesus Kristus.  Namun saat ini persoalan yang dihadapi pendidik secara umum ada tiga hal, yaitu pertama, soal finansial yang pas-pasan. Banyak guru agama Kristen hanya mendapat gaji honor dan tidak diangkat menjadi guru tetap. Honor yang diberikan pun sangat minim dan sarat dengan pengabdian. Yang  kedua adalah soal pengembangan diri sebagai seorang pendidikan menjadi profesional yang tidak diperoleh. Padahal tuntutan saat ini adalah sudah semakin kompleks, di mana anak didik sudah semakin pintar karena banyaknya input yang diperoleh dari berbagai media, termasuk internet.  Sedangkan guru untuk berlangganan koran yang bermutu saja masih harus pikir-pikir, apalagi harus membeli buku secara rutin.  UU Sisdiknas memang menjanjikan anggaran yang menggiurkan untuk pendidikan, dan itu diharapkan akan menyangkut kesejahteraan pendidik juga.  Tetapi apakah dapat terealisasi? Dan yang ketiga adalah masih ada pemimpin Kristen yang menganggap profesi guru agama Kristen bukan panggilan pelayanan, namun hanya mengejar menjadi pegawai negeri (PNS). Tak heran ada hamba Tuhan yang berkotbah di gereja menuduh bahwa mereka yang menjadi PNS telah lari dari panggilan, benarkah demikian? Tentu ini konsep yang harus diperbaiki, bahwa guru agama Kristen yang berstatus PNS adalah guru yang harus dihargai panggilannya.

Hal lain yang menjadi persoalan para pendidik menyangkut soal imannya adalah sama dengan persoalan para rohaniwan:

1. Para pendidik dianggap serba bisa dan serba tahu.

Citra pendidik secara tradisional dianggap serba mengetahui semuanya dan serba bisa mengerjakan tugas yang di luar bidangnya. Dan ini yang menyebabkan kita bertanya tentang identitas kita, karena ini beban yang berat bagi seorang manusia biasa yang masih ada kekurangan.


2. Pendidik dan keluarganya dianggap orang suci dan tidak boleh salah.
Di sini para pendidik (khususnya agama Kristen) dianggap memiliki iman yang sempurna, tokoh spiritual yang menjadi teladan. Ia rela menderita karena mereka adalah wakil Kristus di muka bumi ini.  Karena itu para pendidik diharapkan tidak boleh menuntut upah atau kesejahteraan, karena seperti Yesus maka dia harus menerima apa adanya.  Dan mereka seperti “ikan dalam aquarium” yang diselidiki dan diamati setiap orang.

Seorang guru agama Kristen harus dihargai karena pendidikan Kristen adalah hak istimewa yang diberikan negara kepada bangsa Indonesia. Tidak semua negara mendapatkan keistimewaan ini. Apalagi anak didik tidak cukup mendapat pendidikan agama di sekolah minggu. Itu sebabnya gereja juga patut memperhatikan kesejahteraan jasmani dan rohani terus dijaga dan diperhatikan, terutama untuk guru honorer yang tidak diangkat menjadi guru tetap. Gereja seharusnya ikut mengontrol mutu pengajaran guru agama dan harus terus ditingkatkan. Sepatutnya seorang guru harus mendapat penghargaan atas profesinya sehingga ketika dianggap berharga, guru akan memberikan yang terbaik bagi anak didiknya, termasuk kepada gereja dan masyarakat.

Bagaimana Menolong Menjadi Profesional?
Seorang guru agama Kristen berdasarkan UU adalah seorang profesional yang sama kedudukannya dengan profesi lainnya seperti dokter, ahli hukum dan sebagainya. Itu sebabnya seorang guru tidak hanya perlu mendapatkan sertifikasi, namun juga perlu meningkatkan profesionalitasnya. Ada beberapa cara meningkatkan profesionalitas guru.

1.  Kolegialitas
Penting bagi tiap pendidik menyadari bahwa dia memerlukan teman rohani.  Ada teman-teman yang saling mendukung dan menguatkan.  Persekutuan di gereja memang ada, namun apakah mereka concern dengan pergumulan yang kita hadapi?  Di sini pentingnya suatu paguyuban guru agama Kristen, saling bertukar informasi dan memberikan dorongan satu dengan yang lainnya.  Pengalaman penulis waktu menjadi gembala jemaat di Bali yang bergaul dengan para pelukis. Ternyata para pelukis suka berkumpul dan berdiskusi terutama waktu ada teman mereka mengadakan pameran. Dan berkumpul bersama ternyata sangat efektif dalam meningkatkan kualitas lukisan mereka.  Cerita nyata ini merupakan ilustrasi yang juga bisa dipakai dalam persekutuan di antara para pendidik agama Kristen.

2. Doa, pembacaan Firman Tuhan
Iman pendidik harus dipelihara dalam doa dan pembacaan Kitab Suci.  Kelihatan ini sudah biasa terdengar, karena sering dipercakapkan.  Namun yang menjadi meditasi kita adalah apakah yang menjadi pegangan kita dalam pengharapan yang sekular ini? Ketika dunia menawarkan sesuatu yang materialistis, pegangan kita adalah doa dan Firman Tuhan.  Dan itu harus dipraktikkan dengan jujur sebagai guru agama Kristen.

Begitu pula dengan Firman Tuhan harus kita dengar.  Memang tanpa membaca Alkitab dan menghayatinya, tidak mungkin kita mengajar. Tetapi harus diingat bahwa peran utama pembacaan Firman Tuhan adalah membentuk kita.  Bacaan Alkitab seharusnya tidak lantas diterjemahkan dalam jargon moral untuk anak didik, namun yang terutama melawat hati kita yang masih rapuh dalam kedagingan.

3.  Keterlibatan dalam pelayanan di gereja
Adalah kewajiban sang pendidik bukan hanya menjadikan profesi guru sebagai pekerjaan, tetapi suatu panggilan Tuhan.  Dan diharapkan para pendidik terlibat dalam pelayanan di gereja. Ini penting untuk membuat hubungan yang berkelanjutan antara gereja dan sekolah. Gereja punya peran memberikan arah pendidikan agama Kristen di sekolah agar tidak menjadi hanya pendidikan yang menekankan kepada kegiatan intelektual semata, namun menjadi pembentukan kepribadian seutuhnya anak didik (spiritual formation).

4.  Pengembangan diri
Pendidikan berkelanjutan (continuing education) adalah sebuah keharusan bagi seorang guru.  Tanpa pengembangan diri dan menjadikan diri kita knowledge worker, kita akan kehilangan kesempatan menjadi efektif dalam profesi kita.  Dan ketika tidak menjadi efektif, kita tidak profesional, begitu seterusnya.  Dan ini menjadi lingkaran yang tidak bisa dilepaskan sampai kita memutuskan untuk mengembangkan diri. Pendidikan lanjutan tidak harus formal, namun bisa lewat buku bacaan, seminar, atau pelatihan lainnya. Seorang guru misalnya, berkomitmen menghadiri salah satu acara seminar atau pelatihan yang berbobot dan bukan hanya penataran yang formalitas belaka.

Profesi guru agama Kristen harus dihargai. Gereja harus berperan dalam menolong para guru meningkatkan profesionalitas mereka. Tugas mereka sangat mulia dan tidak bisa dianggap sebagai bukan pelayanan. Guru agama Kristen pada sisi lain harus membuktikan bahwa menjadi guru agama bukan sekadar memberikan nilai agama dan hanya memenuhi kewajiban negara, namun memberikan yang terbaik bagi anak didik dan membentuk mereka menjadi serupa dengan Kristus.

Sumber inspirasi:
Andar Ismail (peny.), Mulai dari Musa dan Segala Nabi (Jakarta: BPK GM, 2000, cet. Kedua), khususnya tulisan Drs. L. J. Oosterom dan Drs. Gideon van Dam.

Events

mengundang

agenda

Statistik Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
Today: Apr 24, 2014

Twitter


Ads on: Special HTML

Alamat

Dr. Daniel Ronda
08124222711 / 0411-5744185
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan Indonesia

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP